Terjemahkan

Cerita sex ML dengan mertua part 3

Lalu mama menceritakan segalanya, bahwa selama beberapa hari ini sebenarnya ia tahu apa yang kulakukan, tapi sengaja membiarkannya, karena...mama pun sudah sangat lama tak lagi mendapatkan kepuasan biologis dan bathin, karena papa mertua lebih sibuk dengan usahanya dan tertimpa penyakit pula. Oleh karena itu mama pun menyibukan diri dengan berbisnis. Mama pun bercerita bahwa kerap rekanan bisnisnya yang kebanyakan juga wanita seusiannya kerap memanfaatkan jasa pria-pria muda untuk memuaskan nafsu masing-masing, bahkan mama juga pernah ditawarkan, namun berhasil menahan diri walau dalam satu kesempatan nyaris terjadi, sempat bercumbu dan nyaris disetubuhi ketika tiba-tiba telpon berdering memberi kabar bahwa papa mertua masuk rumah sakit sebelum yang terjadi sekarang. Dan sungguh tak menyangka justru disetubuhi menantunya sendiri, itulah yang membuatnya menangis karena di satu sisi merasa berdosa dengan anak dan suaminya namun di sisi lain hasratnya yang lama terpendam tak bisa ditahan lagi, dan yang ia dapatkan adalah orgasme pertama setelah belasan tahun tak pernah merasakan lagi. Mama sendiri tersipu-sipu ketika ku sanjung-sanjung kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya meski di usianya yang kepala empat dan telah punya cucu. Kami saling memeluk ,membelai dan saling melumat bibir. Hingga kemudian tanganku mengusap-usap vaginanya dan tangan mama meremas-remas pelan biji pelir dan batang kemaluanku, membuatnya lambat laun kembali tegak perkasa. Dan ronde kedua pun dimulai, kembali spring bed itu berderit-derit dan kamar itu diramaikan suara rintihan mama dan suara kecipak dua organ dibalut lendir saling merasakan kenikmatan masing-masing. Bermacam-macam gaya kami lakukan, mama di atas, aku di bawah, menyamping, doggie style sampai akhirnya mereguk orgasme bersama. Dan kami baru benar-benar kelelahan sampai keempat kalinya melakukan persetubuhan terlarang itu. Aroma sex tercium santer di dalam kamar itu, lalu kami tertidur saling berpelukan dengan kelamin tetap menyatu. Malam itu hubungan kami telah berubah drastis, dari menantu & mertua menjadi sepasang kekasih. Sinar matahari pagi menyilaukan mataku, dengan setengah mengantuk kucoba mengembalikan memoriku, satu tangan mama masih memeluk dadaku sementara kepalanya bersandar di pangkal lenganku, sebelah kakinya juga masih menimpa sebelah pahaku. Wajahnya nampak cantik sekali dan menunjukan kepuasan, nafasnya teratur menghembuskan hawa hangat di wajahku. Menyadari dipeluk wanita setengah baya yang cantik , dalam keadaan telanjang pula, membuat perabotanku kembali menegang keras. Aku beranjak dengan hati-hati untuk duduk, lalu menyingkirkan selimut sehingga sehingga menampakan tubuh bugil mama yang molek itu. Ku remas-remas pelan payudaranya dan ku betot pelan putingnya, membuat senjata biologis ku kian tak bisa diajak kompromi, lalu aku merangkak ke atas tubuh mama, melebarkan kedua paha mulusnya, dengan perlahan kudorong kepala penisku di antara dua bibir vagina mama. Agak susah karena cairan pelumas mama belum keluar namun tetap kupaksakan sedikit demi sedikit, wajahnya nampak meringis, lalu perlahan matanya membuka kemudian tersenyum ke arahku, membuatku langsung melumat kembali bibirnya. Mama membalasnya dengan liar, sementara aku terus berupaya menggali kembali lubang kenikmatan itu yang kini mulai memproduksi lendir pelumas sehingga penetrasi penisku kian dalam sampai akhirnya tinggal dua biji pelir yang tertinggal di luar mulut vagina mama. “...Deni...kamu belum puas juga sayang? Unnnghhh”...rintih mama ketika aku mulai bergerak maju mundur. “belum, mama,,,aku ingin setubuhi mama setiap menit...ahhhss”, jawabku diantara nafas menderu penuh nafsu.”sshh...Den...puaskan mama, unghh..cumbui mama..sayang..oohh” Pagi itu kembali ranjang kami berderit-derit akibat gerakan terlarang sepasang manusia terbakar nafsu. Suasana dingin pagi itu tak mampu mencegah keluarnya keringat dari tubuh-tubuh aku dan mama mertua. Aroma sex santer tercium sebelum digantikan hawa pagi. Beberapa saat kemudian ku putar tubuh mama hingga membelakangiku, kuambil sepasang bantal lalu kuletakan di bawah dadanya, dalam posisi menungging, kembali kusetubuhi ibu mertuaku yang cantik itu dari belakang, kembali ia merintih-rintih dengan ributnya sehingga terkadang kuberikan jemariku untuk dihisapnya biar tak terlalu ribut. Pantatnya yang bahenol itu bergetar akibat tusukan-tusukan kontolku tanpa ampun ke liang senggamanya. “ Ohh Deni...oh Den...ooh..ooh..ahhhhhhhhss”, rintihan panjangnya setengah berteriak dan tubuh sexynya yang tiba-tiba mengejang menandakan mama tengah dilanda orgasme. Sampai belasan detik kemudian kembali melemas dan terguncang-guncang oleh hentakan-hentakanku.


Dan semenit kemudian akhirnya kantung pelirku mengeras dan rasa sedikit geli di seputaran leher penisku menghantar datangnya orgasme & ejakulasi spermaku di dalam liang vagina mama.”ooohhhhs.....mamaaa....oooohhhh”, lalu aku jatuh menimpa punggung mama sambil mencoba mengembalikan irama nafas kembali normal. Kami lalu saling memeluk dan berpagutan cukup lama, sampai kemudian mama berkata,” mandi yuk Den, kita siap-siap berangkat”, “he-eh ma, yuk”.. jawabku sambil beranjak, lalu menggendong mama, mama tersenyum tersipu malu,”ah Deni...kamu romantis sekali sayang” lalu mengecup bibir dan wajahku. Lalu kuturunkan tubuh mama di depan bath tub, dengan tanpa sunkan ia jongkok dihadapanku, lelehan spermaku berjatuhan keluar dari vaginanya sebelum diikuti cairan bening kekuningan air seninya yang mengalir deras. Sungguh suatu pemandangan menakjubkan, lalu aku pun ikut berjongkok dan buang air kecil di hadapan mama yang tertawa kecil melihat ulahku. Lalu kami berdiri dan mulai mandi, saling menyabuni tubuh masing-masing,mengusap-usap dan meremas-remas,,,dan sekali lagi kembali batang kemaluanku menegang ketika digenggam pelan mama dan dikocoknya pelan dengan tangan berlumuran busa sabun. Mama tersenyum dan berkata lirih,” Deni...kamu nafsuan banget sih, kok udah berdiri lagi”, “salah mama sih,” jawabku,”salah mama apa?”, tanyanya.”salah mama karena terlalu sexy dan nafsuin, mama harus tanggung jawab nih”, ujarku. Mama tertawa kecil, menyiram tubuhku dengan handy shower sehingga busa-busa sabun luruh, lalu berlutut di hadapanku dengan tetap menggenggam batang penisku,,,dan hap...mama mengulum dan menghisapnya, dipadu kocokan tangan dan jilatan lidahnya. Membuatku menahan nafas menikmati tindakan mama. Mama terus mengoralku dengan rakus, wajahnya yang cantik penuh nafsu, dan goyangan payudaranya dari sudut pandangku membuatku tak tahan lagi, kuraih tubuhnya, lalu kulumat bibirnya sambil kudorong ke arah shower, kuangkat satu kakinya oleh sebelah tanganku, dan dengan hentakan keras kuhujamkan batang kemaluanku ke dalam liang vaginanya, membuat mama menahan nafas kemudian diikuti oleh rintihannya. Di bawah siraman shower dan dalam posisi berdiri kembali kureguk kenikmatan dari tubuh wanita setengah baya yang telah melahirkan istriku itu, dan sekian menit kemudian ku cabut batang penisku lalu memutar tubuh mama hingga membelakangiku, untuk kembali kusetubuhi dari belakang. “ooh...Den..mama udah gak tahan...oooooohhh”, demikian rintihnya sebelum tiba-tiba tubuhnya mengejang dan kurasakan vaginanya berdenyut-denyut, membuatku terpacu untuk segera menuntaskan permainan terlarang di kamar mandi itu. Hentakanku kian cepat, membuat payudara mama yang menggiurkan itu berguncang-guncang dahsyat, sangat mubazir jika tak segera kuraup dengan kedua tanganku. Dan akhirnya...hentakan terakhirku menjadi penghantar semburan-semburan spermaku menyiram mulut rahim mama. Lututku melemas serasa tak mampu menopang tubuhku yang bersandar di atas punggung mama yang setengah membungkuk itu, sampai semenit kemudian kucabut senjata biologisku dari liang senggama mama, menimbulkan suara angin mirip kentut diikuti lelehan cairan putih kental yang terjun bebas ke lantai kamar mandi . Kami melanjutkan mandi, saling menyabuni dan mengusap-usap, sebelum berpakaian dan kembali berangkat ke rumah sakit.

Siang itu kami mendapat kabar bahwa kondisi ayah mertua sudah membaik dan bisa pulang besok, suatu kabar gembira sekaligus kabar buruk...karena affairku dengan mama akan berakhir. Di satu sisi aku sedikit lega bahwa petualangan terlarang ini usai, sebagai manusia normal sedikit banyaknya aku merasa bersalah dan tentu saja menjadi beban psikologis tersendiri, namun ibarat koin...di sisi lain aku merasa kehilangan momen-momen indah bersama ibu kandung istriku itu, yang kini terlanjur ku cintai sebagai kekasih. Mama pun aku yakin merasakan hal yang sama, sepanjang perjalanan ia tampak terdiam dan tak bergairah. “Ma..., mikirin apa sih?,tanyaku memancing.”Kamu tahu apa yang mama pikirkan Den”, jawabnya. “Ya mau bagaimana lagi ma, apapun alasannya apa yang kita lakukan ini salah, kita telah menusuk papa dari belakang ma,” jawabku. “iya...mama juga tahu itu, tapi mama terlanjur cinta sama kamu Den, mama tahu ini perbuatan paling hina di mata orang, tapi perasaan gak bisa bohong,” jawab mama...kali ini dengan terisak dan berlinangan air mata. “sssshh....sudah lha ma, kita masih punya waktu sehari kan, tokh kita masih bisa ketemuan di rumah”, jawabku. Mama hanya terdiam dan terisak. Setibanya di hotel menjelang senja, kami memasuki kamar dengan lesu. Aku duduk di sofa melepaskan sepatu. Mama sendiri berdiri di depan meja rias melepaskan satu per satu kancing blousenya dengan pelan. Wajahnya tertunduk lemah, kilasan payudaranya yang tertutup BH, membuat hasratku bangkit. Aku beranjak mendekati mama, membantu melepaskan bajunya, kini ia berdiri di hadapanku hanya dengan BH dan celana dalam. Wajahnya masih tertunduk, segera kuraih pipinya, kudongakan wajahnya dan dengan segera melumat bibirnya. Mama yang semula tidak bergairah mulai membalasnya, sehingga lidah kami saling membelit. Segera tanganku melepaskan pengait BH nya dan meloloskannya dari kedua tangannya, payudara yang masih padat berisi itu segera menjadi sasaran dua tanganku. “ohh...Deni...sayang...ohhh”, rintih mama di antara nafas yang tak teratur akibat beradunya dua bibir. Tiba-tiba ia mendorongku, “Den..nanti malam aja ya, mama masih keringetan neh..mandi dulu”, namun aku segera merengkuh kembali tubuh sensualnya, “aku suka keringat mama”, ujarku lalu menciumi celah di antara payudaranya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, menggigiti pelan putingnya, membuat kepala mama terdongak ke atas sambil terus merintih. Kemudian bangkit mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, sehingga menanpakan ketiaknya yang putih bersih, lalu kuhirup aroma keringat bercampur parfum di situ yang kian membakar gairahku, mama makin menggelinjang dan merengek-rengek. Bulu-bulu romanya bermunculan. Ku putar tubuh mama ke arah meja rias, setengah membungkuk tangannya bersandar di atas meja, aku berlutut, menggigiti ringan pantat bahenolnya meninggalkan prasasti gigi geligiku, mama sesekali menjerit ringan dan berganti menjadi rengekan ribut ketika lidahku menjilati permukaan vagina dan anusnya, tubuhnya sesekali mengejang. “Den....mama udah gak tahan...ooohh”, rintihnya ketika dua jemariku mulai mengorek-ngorek liang kewanitaannya ditemani lidahku yang terus mengecap dan menjilati dua rongga tubuh sebelah bawah mama. Aku bangkit berdiri, tampak bayangan wajah mama yang memerah d icermin, mata menyipit dan mulut setengah terbuka menyiratkan dirinya berada di puncak nafsu. Ku gosokan perlahan batang penisku di antara belahan pantatnya sebelum ku arahkan ke gerbang kenikmatan lubang senggamanya. “oooohhh....nnngg...Deni....ooohh”, mama mulai merintih-rintih ribut mengiringi suara becek dua kelamin beradu. Wajah mama tampak sayu penuh nafsu dengan jatuhan rambut di sebagian wajahnya, cantik dan sexy sekali ditambah gempa bumi kecil payudaranya yang mengundang tanganku untuk meremasnya. Keringat mulai membanjiri tubuh kami, apalagi ditambah hawa panas kamar karena aku belum sempat menyalakan AC. Meja rias itu turut bergoyang membuat beberapa benda di atasnya terjatuh, berupa beberapa perlengkapan perawatan kulit mama dari merk ternama, salah satunya lotion pelembab yang menggelinding di dekat kaki ku, menimbulkan ide untuk mencoba sesuatu yang baru. Sekian menit berlalu sampai akhirnya tubuh mama mengejang lalu berteriak memanggil namaku diikuti denyutan-denyutan dahsyat rongga vaginanya yang mencengkeram batang kemaluanku.

Mama sudah tiba pada puncak orgasmenya, sementara aku terus mengayunkan pinggulku menggetarkan pantatnya. Ku dekap mama dari belakang lalu ku bisikan kata-kata, “ma...aku mau nyobain anus mama”, ujarku, mama yang masih mabuk dengan orgasmenya mengangguk lemah dan menjawab di antara sengal-sengal nafasnya,”pelan-pelan sayang, pake lotion mama, seumur-umur mama belum pernah di anal”, jawabnya. Ku pungut botol lotion itu, ku tuangkan isinya lalu kubalurkan di sepanjang batang penisku, juga di permukaan anus mama, kutusukan jari telunjukku ke dalamnya, mama terdorong ke depan dan mengejang,”ohhs...pelan-pelan Deni”, ujarnya. Ku tambahkan lotion ke anus mama. “ma...tahan ya, aku masukin nih.”, ujarku di tengah dengusan nafas , mama mengangguk. Dengan perlahan kepala jamur penisku memasuki lubang anus yang masih perawan itu, mama menahan nafas dan merintih. Namun se senti demi se senti terus penetrasi, dan tiap tahap menghasilkan jeritan mama,” oouuh...pelan-pelan Den...uhhh...sakiit...ahhh”, tapi akhirnya seluruh batang kemaluanku ambles ditelan lubang anus mama, kunikmati sensasi cengkeraman sempit rongga belakang mama beberapa saat. Wajah mama tampak meringis dan menggigiti jemarinya. Ku tarik penisku keluar dengan pelan, mama kembali setengah berteriak. Dengan menyisakan kepala kontolku di dalam kembali kubaluri lotion di sekujur batangnya. Lalu kembali ku tusukan ke saluran pembuangan mama. Mama kembali berteriak kesakitan dan gemetar. Ku tarik kembali keluar batang kelaminku,kutusukan lagi, terus dengan eskalasi makin lama makin cepat temponya, reaksi mama mulai relax tak lagi berteriak kesakitan selain mengeluh dan merintih setengah menangis. Cengkeraman anus mama jauh lebih ketat dibanding vaginanya. Aku terus mendesak-desakan penisku ke saluran anal mama, keringat kami kian membanjiri tubuh, punggung mama berkilauan tertimpa cahaya lampu. Ku pegang pangkal lengannya, lalu kudorong mama berjalan ke arah kamar mandi tanpa penisku meninggalkan anusnya, sesekali berhenti untuk ku ayun-ayunkan pinggulku menyetubuhi mama yang pasrah menuruti hasratku. Tepat di dalam kamar mandi, setelah beberapa kali hentakan menjelang tibanya klimaks, kucabut batang penisku, ku putar tubuh mama hingga menghadapku lalu kupaksa berlutut...dan srrt...srttt..srrtt..srrt, cairan spermaku menyembur hinggap di wajah mama dan payudaranya, mama tampak gelagapan menerima kejutan malam itu, munkin ini adalah pengalaman pertama juga sepanjang kehidupan seksualnya. “mmmhhh...Deni...kamu nakal banget sih...abis dah badan dan muka mama kamu kerjain”, jawabnya setelah habis orgasme ku. Ku papah ia untuk bangkit, lalu ku nyalakan shower untuk membasuh wajahnya. Setelah itu kami kembali mandi bersama sambil bercumbu. Usai makan malam, selanjutnya bisa ditebak....kami menghabiskan waktu yang tersisa bagai pengantin baru...bersetubuh, istirahat sebentar dengan bercakap-cakap, lalu bercumbu, kembali saling menggapai kenikmatan seksual, seterusnya hingga lewat tengah malam baru tertidur. Apakah hubungan terlarang ini akan berakhir esok?
" gabung di forum dewasa ya, baru nih bantuin biar rame, tapi hanya member yang bisa mengakses forum disini "

photo 01

Ditulis Oleh : tito pratama Hari: 9:48 AM Kategori:

0 komentar:

Post a Comment

Iklan : www.titostore.com